Home > Dailly, Islam > Gempa dan Kebangkitan Ummat

Gempa dan Kebangkitan Ummat

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya). Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”. Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS Az-Zilzal [99]: 1-8)

Tanggal 27 Mei 2006 merupakan saat yang takkan pernah terlupakan oleh orang Jogja yang pada saat itu sedang berada di Jogja. Kota Jogja, kota yang menurut sebagian besar orang merupakan kota yang paling aman dari bencana, paling nyaman dan paling tentram untuk ditinggali, akhirnya terkena bencana juga. Pada hari Sabtu kala itu, terjadilah bencana yang tak pernah diduga sebelumnya, yaitu gempa berkekuatan 5.8 skala richter yang telah meluluhlantakkan bangunan, baik rumah, sekolah ataupun gedung-gedung milik pemerintah yang selama ini berdiri tegak di atas tanah Jogja. Tak terhitung kerugian yang diderita warga Jogja maupun pendatang, baik berupa harta benda maupun kehilangan sanak saudara yang meninggal akibat bencana tersebut.

Dalam kacamata sains, gempa yang terjadi di Jogja empat tahun silam merupakan jenis gempa tektonik. Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi. Gempa tektonik disebabkan oleh perlepasan yang terjadi karena pergeseran lempeng plat tektonik seperti halnya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tectonic plate menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Kebanyakan gempa bumi jenis ini disebabkan dari perlepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekana itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi.

Dalam perspektif agama, bencana alam seperti halnya gempa bumi bukanlah sebuah peristiwa alam biasa, tetapi sarat muatan pesan dari Allah SWT kepada manusia. Gempa bumi adalah peringatan Allah yang paling nyata, bahwa manusia itu memang sangat tidak berdaya. Untuk itu tidak ada pelindung selain Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa. Gempa bumi adalah bagian dari sistem yang sudah diciptakan Allah yang tidak bisa dibantah dan dihindari. Hanya orang-orang yang bisa membaca dari semua kejadian dan belajar dari kejadian itulah yang mendapatkan hikmah dan manfaat yang besar, sebesar dampak yang ditimbulkan gempa bumi itu sendiri.

Kemarin, tanggal 27 Mei 2010, tepatnya empat tahun sejak peristiwa yang mengerikan itu. bagi sebagian orang Jogja, trauma atas kejadian tersebut pasti masih kuat di pikiran mereka. Tetapi, postingan ini bukan bertujian untuk membangkitkan kenangan pahit atau kenangan buruk yang masih singgah di benak kita sampai saat ini, namun lebh kepada pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa gempa Jogja tersebut.

Pertama, tanpa kita sengaja atau kita sadari waktu itu kita hampir tak pernah memandang mana si miskin dan mana si kaya. Semua orang merasakan hal yang sama waktu itu, senasib dan sepenanggungan. pasca gempa sebagian besar orang tinggal di tempat pengungsian, mendirikan tenda-tenda darurat dan setiap malam mereka (si miskin dan si kaya) tidur bersama. Tak ada orang yang membeda-bedakan hak mereka, waktu itu tak ada orang yang berfkir mana si kaya dan mana si miskin. Semua orang mendapat hak yang sama.

Kedua, hampir tiap hari setelah bencana tersebut, masjid-masjid selalu penuh saat berlangsung sholat berjamaah. Mungkin waktu itu orang-orang menyadari bahwa bencana yang terjadi merupakan peringatan dari Allah SWT karena kita telah melupakan dan melalaikan perintah-Nya, Dzat yang mempunyai kuasa atas diri kita.

Kedua hal di atas merupakan pelajaran berharga dan penting yang dapat kita ambil bahwa sebagai manusia kita harus selalu ingat bahwa tinggi rendahnya kedudukan kita dihadapan Allah sWT tidak ditentukan oleh banyak sedikitnya harta yang kita miliki di dunia ini, tetapi ditentukan oleh kadar ketaqwaan kita kepada-Nya. Orang yang kaya akan harta duniawi belum tentu mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah SWT. Sebaliknya orang yang miskin akan harta duniawi, belum tentu juga dia miskin di hadapan Allah SWT. Peristiwa gempa Jogja tersebut jugamengingatkan kepada kita, bahwa kita ini sepenuhnya milik Allah SWT. Kita tidak akan pernah tahu, kapan dan dimana Allah SWT akan memanggil kita untuk kembali. Oleh karena itu, kita harus berusaha mempersiapkan bekal sebanyak mungkin agar kalau Allah SWT memanggil kita untuk pulang ke hadapan-Nya kita sudah siap.

Empat tahun bukan waktu yang lama, tetapi apakah ‘bangkitnya’ kota Jogja dari segi fisik baik itu bangunan rumah, kantor, ataupun gedung-gedung itu diimbang juga dengan ‘kebangkitan’ dari dalam diri kita untuk selalu ingat kepada-Nya? Apakah saat ini si kaya masih memiliki juwa dan rasa seperti saat peristiwa gempa Jogja tersebut? Apakah saat ini kita masih selalu mengingat-Nya, kapan pun dan dimanapun kita berada? Jangan sampai kita termasuk bagian dari orang yang selalu membutuhkan ‘peringatan’ dari Allah SWT agar selalu ingat kepada-Nya. Kembali pada diri kita masing-masing untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Kita hanya bisa berharap dan berdoa, semoga tangisan Jogja dan tangisan Indoneia tidak terdengar lagi di masa-masa yang akan datang. Amiin…

Categories: Dailly, Islam Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

*

Bad Behavior has blocked 80 access attempts in the last 7 days.